Murid bukan kuda, tetapi sapi

Saya bersyukur setiap hari mendapat pelajaran berharga dari apa saja yang saya temui.  Termasuk kalimat di atas.  Kalimat itu bukan untuk membinatangkan murid, tetapi saya ingin mengisahkan bagaimana filsafat pendidikan yang saya pelajari hari ini.

Saya punya seorang murid bahasa Indonesia, dia seorang guru tari Bali.  Seperti biasa saya mengajarnya di hari Senin sore, satu jam saja.  Pembelajaran kami lebih kepada sebenarnya saling bercerita tentang negeri kami masing-masing dalam bahasa Indonesia yang cukup baik.  Dia sudah fasih berbahasa Indonesia, saya hanya bertugas membenahi beberapa kalimat yang salah sedikit dan memperkenalkannya dengan beberapa kosa kata.  Biasanya untuk tujuan ini, saya selalu meminta dia untuk menulis karangan atau bercerita.

Hari ini dia membuat karangan menarik tentang bagaimana dia belajar tari bali dulu.  Gurunya seorang seniman sejati, namanya Bopo Sijo (Sija) berusia sekitar 70 tahun, seorang tua yang sehari-hari pergi bertani, plus di waktu senggangnya menari, memainkan gamelan, mengukir, dan berbagai keahlian seni lainnya.

Bopo Sijo tidak punya sanggar tari khusus, yang ada hanya kebun kecil untuk menari.  Karena menganggap diri bukan sebagai guru barangkali, maka dia tidak mempunyai skedul khusus latihan.  Jika ingin menari, maka dia menari dan menyuruh murid-muridnya untuk tidak menirukan, tapi cukup melihat saja.  Setelah selesai menari, barulah dia pergi meninggalkan kebun, dan menyuruh muridnya menari.  Tentu saja murid tidak ingat semua gerakan tari.

Bopo Sijo pun tidak pernah menyuruh muridnya latihan.  Sekali waktu dia mengajak muridnya menari bersama, tetapi hanya sebentar.  Dan selanjutnya beliau tak pernah memberitahu kapan latihan selanjutnya.

Murid saya merasa bingung.  Sebab untuk menjadi mahir dengan model latihan seperti ini yang tidak jelas kapan mulai dan kapan selesainya akan memakan waktu yang lama.  Karenanya dia mencoba menarik perhatian Bopo dengan menari/latihan sendiri di kebun, agar terlihat oleh Bopo yang sedang memahat atau mengukir di seberang kebun.  Sayang Bopo tak pernah melirik sekalipun.  Tetapi dia tak putus asa, setiap hari dia menari, mengingat-ingat gerakan tari dan menyesuaikannya dengan alunan gamelan.

Pada suatu hari, Bopo akhirnya turun tangan menegurnya dan memperbaiki gerakan tarinya.  Sejak saat itu, dalam keadaan kesulitan murid saya selalu meminta kepada Bopo untuk mengajarinya.  Bopo kemudian mengatakan : “kamu bukan kuda, tetapi sapi !”

Saya, sama seperti murid saya tatkala mendengar kalimat itu, sama sekali tidak mengerti makna ucapan yang dalam ini.  Kenapa kuda, kenapa sapi ?

Kuda adalah binatang yang selalu dituntun oleh pemiliknya.  Dia selalu berada di belakang tuannya, sementara sapi, kalau kita perhatikan petani membajak, maka sapi selalu berada di depan, dan petani di belakang.

Jadi, begitulah konsep mengajar Bopo.  Dia tidak mau menuntun murid, tetapi meminta murid untuk menari dan menari terus hingga menyukainya kemudian jika sudah melihat kesungguhan, maka guru akan turun tangan membenarkan yang salah. Guru seharusnya mendorong dari arah belakang.

Konsep ini barangkali sama dengan pesan Ki Hajar Dewantoro, tutwuri handayani.
Saya jadi teringat dengan cara mengajar saya selama ini.  Sepertinya saya masih terlalu banyak memperkuda siswa, memaksanya pada sesuatu yang belum tentu dia sukai atau saya lupa mengajarkannya untuk mencintai ilmu yang akan ditekuninya.

Yang lebih membuat saya berdecak kagum adalah keengganan Bopo untuk dibayar sepeserpun atas jasanya ‘mengajari’ tari Bali. Pasti banyak Bopo-Bopo yang lain  di bumi Indonesia, yang tidak terhitung dan terdeteksi oleh pemerintah sebagai pahlawan pelestari budaya.


Share ke: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • TwitThis
  • YahooMyWeb

Leave a Reply